You are currently viewing PERANAN PERPUSTAKAAN DALAM MENINGKATKAN MINAT BACA SISWA

PERANAN PERPUSTAKAAN DALAM MENINGKATKAN MINAT BACA SISWA

PERANAN PERPUSTAKAAN DALAM MENINGKATKAN MINAT BACA SISWA
Oleh : Hironimus, S.Pd

Undang-Undang Nomor 2 Tahun 1989 tentang sistem Pendidikan Nasional, di mana pada pasal 35 undang-undang tersebut dikemukakan bahwa setiap satuan pendidikan jalur pendidikan, baik yang diselenggarakan oleh pemerintah maupun oleh masyarakat, harus menyediakan sumber-sumber belajar. Dalam penjelasan pasal 35 tersebut dikemukakan bahwa salah satu sumber belajar yang amat penting satu-satunya adalah perpustakaan, yang peserta didik memperoleh kesempatan untuk memperluas dan memperdalam pengetahuan melalui membaca buku dan koleksi lain yang diperlukan. Tim SNI (Standar Nasional Indonesia) bidang perpustakaan mengemukakan perpustakaan sekolah bertujuan menyediakan pusat sumber belajar sehingga dapat membantu pengembangan dan peningkatan minat baca, literasi informasi, bakat serta kemampuan peserta didik.

Menurut Topandi H. Ismail menyatakan fungsi efektif perpustakaan sekolah, yaitu perpustakaan diharapkan mampu menghimpun dan mengembangkan serta menyuburkan minat   baca siswa. Berdasarkan uraian di atas salah satu fungsi perpustakaan sekolah adalah meningkatkan minat baca peserta didik di sekolah. Menurut Hurlock, minat adalah sebagai sumber motivasi yang akan mengarahkan seseorang pada apa yang akan mereka lakukan bila diberi kebebasan untuk memilihnya. Minat tidak hadir dengan sendirinya tetapi karena adanya faktor yang memengaruhinya. Faktor tersebut dapat berasal dari dalam dirinya (pembawaan, bakat, jenis kelamin, tingkat Pendidikan, keadaan kesehatan, keadaan jiwa dan kebiasaan). Adapun faktor dari luar yaitu (buku / bahan bacaan, dan lingkungan). Minat inilah yang mengantarkan seseorang melakukan kegiatan membaca secara berkelanjutan, baik karena tuntutan akademik maupun kemauan sendiri. Menurut Sabarti Akhadiah, membaca merupakan suatu kesatuan kegiatan yang terpadu yang mencakup beberapa kegiatan seperti mengenali huruf dan kata-kata, menghubungkannya dengan bunyi serta maknanya, serta menarik kesimpulan mengenai maksud bacaan.

Menurut Ibrahim Bafedal salah satu tugas pustakawan dalam rangka memfungsikan perpustakaan sebagai pusat sumber belajar adalah menumbuhkan rasa senang membaca pada siswa. Membaca merupakan aktivitas yang tidak bisa dilepaskan dari menyimak, berbicara, dan menulis. Sewaktu membaca, pembaca yang baik akan memahami bahan yang dibacanya. Selain itu, pembaca diharapkan dapat mengomunikasikan bacaannya secara lisan atau tulisan. Bagi seorang siswa yang tidak memiliki minat dan perhatian yang besar terhadap apa yang dia pelajari, maka sulit bagi siswa tersebut akan tekun dan memperoleh hasil yang baik dalam belajarnya. Apabila siswa tersebut belajar dengan minat baca dan perhatian besar terhadap apa yang dia pelajari, maka hasilnya akan jauh lebih baik. Usman Effendi mengatakan bahwa belajar dan membaca dengan minat akan lebih baik dari pada belajar dan membaca tanpa minat. Minat baca adalah suatu kecenderungan kepemilikan keinginan atau ketertarikan yang kuat dan disertai usaha-usaha yang terus menerus pada diri seseorang terhadap kegiatan membaca yang dilakukan secara terus menerus dan diikuti dengan rasa senang tanpa paksaan, atas keinginannya sendiri atau dorongan dari luar sehingga seseorang tersebut mengerti atau memahami yang dibacanya. Laporan  Studi IEA (International Association for the Evaluation of education achievermen) di Asia Timur, menunjukkan bahwa tingkat terendah membaca anak-anak dipegang oleh Indonesia, yakni berada pada urutan keempat dari bawah dari 45 negara di dunia. Untuk mengatasi rendahnya minat baca siswa maka diperlukan adanya suatu strategi, oleh karena itu Pustakawan dan Guru harus bekerjasama untuk menerapkan strategi agar dapat meningkatkan minat dan menumbuhkan rasa senang membaca siswa. Strategi yang dilakukan guru untuk meningkatkan minat baca siswa di sekolah, diantaranya yaitu: mengadakan kegiatan yang menarik siswa untuk membaca, menugaskan siswa untuk mencari informasi tambahan di perpustakaan untuk memperkaya pengetahuan, dan mengadakan lomba baca karya sastra (puisi, drama dan lain-lain). Perpustakaan Sekolah  juga mengupayakan strategi-strategi agar minat baca siswa meningkat: pemberian tugas membaca, pembuatan kliping, resensi buku dan majalah dinding siswa, mengadakan lomba baca karya sastra (pidato, puisi, dll). Kurang minat membaca pada jam istirahat, sebagian siswa  lebih memilih bermain-main di kelas dan pergi ke kantin dari pada memanfaatkan koleksi di perpustakaan. Mengapa siswa cenderung malas membaca di perpustakaan ?  Bagaimana strategi yang dilakukan oleh sekolah dalam upaya peningkatan minat baca siswa ? Tantangan apa saja yang dihadapi sekolah dalam upaya peningkatan minat baca siswa?  Pada dasarnya minat adalah penerimaan akan suatu hubungan antara diri sendiri dengan sesuatu di luar diri, semakin kuat atau dekat hubungan tersebut, semakin besar pula minat. Sedangkan pengertian membaca menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah melihat serta memahami isi dari apa yg tertulis (dengan melisankan atau hanya dalam hati). Menurut Burs dan Lowe sebagai mana yang dikutip oleh Dwi Sunar Prasetyono tentang indikator-indikator adanya minat membaca pada seseorang yaitu :
a. Kebutuhan terhadap bacaan.
b. Tindakan untuk mencari bacaan.
c. Rasa senang terhadap bacaan.
d. Ketertarikan terhadap bacaan.
e. Keinginan untuk selalu membaca.
f. Tindak lanjut (menindak lanjuti dari apa yang dibaca). Membaca merupakan proses yang dilakukan dan digunakan oleh pembaca untuk memperoleh pesan yang disampaikan oleh penulis.

 Faktor-faktor yang Memengaruhi Minat Baca Siswa Menurut Soeatminah, adalah sebagai berikut:  Faktor dari dalam  Pembawaan/bakat  seseorang merupakan faktor genetik yang diturunkan oleh orang tua kepada anaknya.  Selain itu pembawaan/bakat seorang anak memengaruhi rasa ketertarikan anak pada suatu bacaan. Apabila anak tersebut sudah mempunyai rasa ketertarikan terhadap suatu bacaan maka anak tersebut akan keinginan untuk meminjam ataupun memiliki buku/bacaan yang ia temui. Perbedaan minat membaca juga dipengaruhi oleh perbedaan kelamin. Mungkin karena sifat kodrati, maka pria dan wanita memiliki minat dan selera yang berbeda. Ada perbedaan besar antara minat membaca pada perempuan dan laki-laki. Perbedaan tersebut disebabkan perbedaan fisiologis dan pengaruh budaya, level pendidikan dan kondisi lingkungan. Soeatminah, Perpustakaan Kepustakawanan dan Pustakawan, (Yogyakarta: Kanisius, 1991), hlm.73. 17 3) Tingkat pendidikan Faktor pendidikan sangat memengaruhi minat seseorang dalam hal apapun. Orang yang lebih tinggi tingkat pendidikanya akan berbeda minat membacanya dengan orang yang lebih rendah tingkat pendidikannya. Semakin tinggi dan semakin formal tingkat pendidikan yang dimiliki seseorang maka semakin besar pula minat orang tersebut untuk melakukan suatu kegiatan/minat orang tersebut terhadap suatu benda/bahan bacaan. Sedangkan orang yang tingkat pendidikannya rendah maka minat bacanya bisa jadi rendah juga. Apabila seseorang (khususnya anak-anak) yang mempunyai minat membaca sedang dalam keadaan resah, sedih ataupun kacau pikirannya, kebanyakan orang bila dalam keadaan tersebut maka gairahnya untuk membaca akan berkurang atau mungkin hilang. Berbeda jika dia dalam keadaan senang/gembira orang tersebut akan sangat bersemangat untuk membaca. Kebiasaan Anak yang mempunyai kebiasaan/kegemaran membaca tentu memiliki minat terhadap buku/bacaan, atau sebaliknya orang yang punya minat yang besar terhadap bacaan karena mereka telah mempunyai kebiasaan dan gemar membaca. Ciri-ciri anak yang gemar membaca apabila ada waktu luang akan memanfaatkan waktu luangnya untuk membaca buku/bacaan. Dalam lingkungan sekolah anak yang gemar membaca apabila ada waktu luang akan dipergunakan untuk membaca bacaan baik di kelas ataupun di perpustakaan sekolah. Hal ini berbeda dengan anak yang tidak mempunyai minat membaca yang tinggi, apabila ada waktu luang anak tersebut akan menggunakan waktu luangnya untuk kegiatan yang lain seperti bermain dan lain sebagainya. Kebutuhan seorang anak akan berminat membaca sebuah bacaan/buku apabila bacaan/buku tersebut menarik perhatian anak, sesuai kebutuhan anak dan bermanfaat bagi anak tersebut. Apabila terdapat sebuah buku/bacaan yang bentuknya menarik tapi isi dari buku tersebut tidak sesuai dengan minat kebutuhan anak tentu buku tersebut tidak/kurang menarik minat baca anak. Dalam lingkungan sekolah, perpustakaan sekolah sebaiknya memiliki buku-buku yang menarik perhatian anak didik/siswa, sesuai kebutuhan anak didik dan bermanfaat bagi anak didik sehingga perpustakaan tersebut dapat menarik minat baca anak didik/siswa. 

Faktor lingkungan anak: lingkungan keluarga yang punya kebiasaan dan kegemaran membaca akan memberikan pengaruh yang besar terhadap minat baca anak. Lingkungan sekolah Sekolah memiliki peran yang besar terhadap usaha menumbuhkan dan membina minat baca anak. Melalui bimbingan dan dorongan dari para pendidik (guru) siswa akan mempunyai minat untuk  membaca. Seorang anak jika mempunyai teman yang gemar membaca, anak tersebut juga akan gemar membaca. Karena secara tidak langsung sifat yang ada pada teman bermainnya tersebut memengaruhi anak tersebut. Faktor-faktor eksternal tersebut antara lain : kurangnya partisipasi pihak-pihak yang terkait dengan peningkatan minat baca. Ada beberapa kriteria siswa yang mempunyai minat baca yang baik di antaranya: rajin mengunjungi perpustakaan sekolah. Maksudnya siswa lebih banyak menghabiskan waktu di perpustakaan daripada nongkrong di kantin atau bermain dengan temannya. Rajin mencari berbagai koleksi perpustakaan. Ke manapun pergi selalu membawa bahan bacaan. Tidak sedikit kita jumpai siswa/i yang membawa laptop/tablet untuk mencari artikel-artikel yang menarik. Rajin meminjam buku-buku perpustakaan. Waktu luangnya selalu digunakan untuk membaca buku-buku ilmu pengetahuan yang berguna sehingga daya nalarnya berkembang dan berpandangan luas yang akan bermanfaat bagi dirinya maupun orang lain.

Strategi-strategi untuk meningkatkan minat baca siswa yang dilakukan oleh pustakawan diantaranya: memilih bahan bacaan yang menarik bagi pembaca, menanamkan kesadaran dalam diri pemustaka bahwa membaca sangat penting dalam kehidupan terutama dalam mencapai keberhasilan sekolah, dan melakukan berbagai upaya ataupun kegiatan untuk meningkatkan minat baca siswa (seperti majalah dinding, mengadakan lomba baca, kegiatan pameran buku dan penghargaan bagi siswa yang rajin mengunjungi perpustakaan).

Sedangkan strategi yang dilakukan guru di antaranya yaitu: proses pembelajaran di sekolah harus dapat mengarahkan kepada peserta didik untuk rajin membaca buku dengan memanfaatkan literatur yang ada di perpustakaan dan menciptakan lingkungan yang kondusif untuk meningkatkan minat baca siswa di sekolah (seperti pemberian tugas membaca, pembuatan kliping dan resensi buku fiksi). Di sekolah guru  memberikan tugas kepada siswa untuk menceritakan kembali buku yang telah dibaca dan mengadakan lomba meresensi buku. 


Hironimus, lahir pada tanggal 24 Maret 1968 di Pusat Damai, Sanggau Kapuas.
Alamat Kompleks Batara Indah I Blok CC No. 15.
Pendidikan terakhir Strata 1 Pendidikan.
Cita-cita menjadi guru dan motto : “ Hidup itu Indah” Hobi : Berkebun dan Travelling.
Share on facebook
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on email

Tinggalkan Balasan